Hai kamu, iya kamu~Kamu yang masih jauh diujung mimpiku
Kamu yang masih kusebut terus diujung sajadahku
Kamu yang masih diujung jalan sana
Bisa jadi kita akan bertemu kembali di waktu yang tepat
Hai kamu, iya kamu~
Kamu yang tidak pernah aku sebut-sebut dengan kata-kata dan suara di depan mereka
Kamu yang aku sebut lirih di depan Tuhan ku
Bisa jadi suatu saat nanti ku tak canggung lagi menyebut namamu ketika halal menyapa
Hai kamu, iya kamu~
Kamu yang jarang sekali aku temui
Kamu yang jarang sekali aku lihat
Kamu yang jarang sekali aku tatap
Bisa jadi suatu saat nanti aku akan setiap hari menatapmu tanpa ada serpihan dosa
Hai kamu, iya kamu~
Kamu yang aku tunggu
Kamu yang aku harap datang kelak
Bisa jadi suatu saat nanti kau datang membawa rombongan keluargamu kerumahku
Hai kamu, iya kamu
Kamu yang tak pernah memberiku setangkai bunga
Kamu yang tak pernah mengirimkan puisi-puisi romantis
Kamu yang tak pernah mengirimkan seatang coklat
Bisa jadi suatu saat nanti kau memberiku mahar penanda ikatan yang sah
Hai kamu, iya kamu
Kamu yang sampai saat ini belum datang juga
Semoga suatu saat nanti datang untuk membawaku ke surga
============================================================
Aisyah yang sedari tadi memainkan jarinya diatas keyboard laptopnya, tak sadar ia tersenyum melebarkan bibirnya sendiri. Tangannya menghasilkan syair tersebut.
"Aisyah, ayok jemput adikmu di sekolah, nak", teriak ibunya
Segera bergegaslah Aisyah menjemput adiknya ke sekolah, ia rupanya lupa mematikan laptopnya. Kini, layarnya penuh dengan bait syair yang ia buat dengan sendirinya.
Kamis, 04 Februari 2016
Jumat, 29 Januari 2016
Mahkota Pelindung
Surga diciptakan bagi mereka yang berdosa, namun mereka sungguh-sungguh bertaubat hinga Allah meridhoi dan mengampuni mereka
Surga diciptakan bagi mereka yang pernah tidak mentaatiNya, tapi mereka sungguh-sungguh dalam mencari hidayahNya
Surga diciptakan bagi mereka yang durjana, namun mereka sungguh-sungguh memperbaiki sikap mereka
bisa ku katakan bahwa, surga diciptakan untuk para wanita yang dahulu enggan berhijab, namun mereka berusaha dan bersusah payah beristiqamah memakai mahkota pelindung.
ku sebut mahkota pelindung, karena memang hijab sebagai mahkota yang melindungi wanita dari azab api neraka.
Rasulullah pun pernah bersabda bahwa penghuni neraka sebagian besar ditempati oleh para wanita.
“Aku melihat ke dalam Syurga maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah fuqara’ (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam Neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penghuninya adalah wanita.”
(Hadis Riwayat Al- Bukhari dan Muslim)
Istiqamah itu sangat sulit, ketika harus mempertahankan hijab. Mungkin banyak dari kita menerima banyak cemohan tentang hijab. Besyukurlah di zaman sekarang ini, memakai hijab tak sesulit dahulu, yang dimana para wanita yang berhijab harus rela dikeluarkan dari sekolahnya. Dimana para wanita harus rela menerima ejekan orang lain.
"Jilbab-in hati dulu, baru jilbab-in rambut".
Aku banyak dengar statement ini dari sebagian orang. Dalam Islam pun, tak ada jilbab hati. Yang ada, perintah untuk menutupin rambut (dan aurat lainnya).
Katakanlah (wahai Nabi Muhammad) kepada wanita- wanita mukminah, ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan hiasan (pakaian, atau bagian tubuh) mereka kecuali yang (biasa) nampak darinya dan hendaklah mereka menutupkan kerudung mereka ke dada mereka (QS. an-Nur [24]: 31).
Ada lagi statement yang membuatku menggelitik
"Percuma berjilbab, tapi kelakuannya buruk".
Bagiku, tak ada kata 'percuma' untuk melakukan suatu kebaikan, apalagi kebaikan itu tujuannya untuk mentaati perintahNya. Jangan salahkan jilbab bila kelakuannya mungkin buruk.
Jilbab bisa merubah sikap seseorang. Dengan jilbab, ia akan sedikit demi sedikit merubah sikapnya, karena malu dengan jilbab yang ia pakai.
sekali lagi, jangan pernah katakan "percuma berjilbab, kalo masih blablabla"
Justru memakai jilbab menjadi awalan dan proses seorang wanita dalam menjaga izzah nya dan memperbaiki segala sikapnya.
statement lain-lainnya yang sering ku dengar
"pake jilbab panjang-panjang, kayak istri teroris. pake jilbab panjang-panjang, udah kayak ibu-ibu. pake jilbab panjang-panjang, kayak bu haji aja"
Sejujurnya hanya bisa tertawa mendengarnya. Biasanya kalimat ini sering dilontarkan kepada mereka-mereka yang sedang ber-istiqamah memakai hijab syar'i
well yeah, kalo ada yang bilang kayak ibu-ibu, kan memang calon ibu bagi anak-anak kita kelak. kalo dibilang kayak bu haji, ya aamiin-kan saja, mudah-mudahan bisa jadi haji beneran.
Karena sejatinya, rambut ini adalah mahkota yang tetap harus dilindungi lagi oleh mahkota pelindung. Mahkota pelindung yang InsyaAllah melindungi pemkainya dari siksa api neraka (aamiin)
Biarkan para mahram mu dan suami sah mu yang melihat mahkota indahmu kelak. Maka jadilah wanita shalihah untuk Allah, istri shalihah untuk suami, ibu shalihah bagi anak-anak kelak, dan wanita cerdas yang kan mencerdaskan anak-anak kelak. Hijab tidak menghalangimu untuk menjadi wanita cerdas. Yuk mari berHIJRAH dan berHIJAB :)
dari yang sedang berusaha jadi baik,
ghazinena
nb: tulisan ini tidak bermaksud menggurui, hanya saja menjadi reminder diri sendiri :)
Senin, 26 Oktober 2015
Mengeluh
Malam itu aku baru saja turun dari kereta yang membawaku dari Stasiun Lenteng Agung ke Stasiun Klender Baru. Aku turun dari kereta bersama seorang teman satu kampus, namanya Atikah. Namun kami berbeda fakultas. KAmi sudah cukup lama kenal dari SMA, meskipun berbeda SMA.
Sejujurnya di hari itu aku sangat lelah, karena kondisi badanku yang lagi kurang fit. Dengan langkah tergontai aku berjalan dengan temanku di sepanjang peron menuju pintu keluar. Tak sengaja ku lontarkan kalimat keluhan, "capek banget yaa, dari pagi naik kendaraan umum. gak kebagian tempat duduk, jadinya berdiri mulu deh". temanku itupun merespon perkataanku, "itu berarti kamu masih diberi kekuatan untuk berdiri terus."
Sejujurnya di hari itu aku sangat lelah, karena kondisi badanku yang lagi kurang fit. Dengan langkah tergontai aku berjalan dengan temanku di sepanjang peron menuju pintu keluar. Tak sengaja ku lontarkan kalimat keluhan, "capek banget yaa, dari pagi naik kendaraan umum. gak kebagian tempat duduk, jadinya berdiri mulu deh". temanku itupun merespon perkataanku, "itu berarti kamu masih diberi kekuatan untuk berdiri terus."
Sejujurnya perkataan temanku ini cukup menyentil hati dan perasaan. seketika menyesal telah mengeluh seperti itu. Betapa tidak, masih banyak orang-orang disana yang harus menggunakan kursi roda ataupun tongkat untuk membantunya melakukan kegiatan sehari-hari. Sedangkan aku? pantaskah aku mengeluh dengan kondisi (Alhamdulillah) memiliki kaki yang masih lengkap. Ah kadang mulut ini tak tahu diri diri untuk mengucapkan hal-hal yang seharusnya tidak dikeluhkan dikala semuanya ternyata masih baik-baik saja.
Terkadang mulut ini memang suka tak tahu diri yaa. Apa sulitnya bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang?
“Dan Dia-lah yang memberikan KEKAYAAN dan KECUKUPAN.”
(QS. Al Najm : 48)
Menurut ayat diatas, Allah tak menjadikan manusia akan kekurangan sesuatu apapun, yang ada hanyalah kekayaan dan kecukupan. Kita selalu merasa kurang, karena kita sendirilah yang membuat-buat semuanya kurang. Perasaan selalu merasa kurang ini adalah buah dari minimnya rasa syukur. Rasa syukur yang kurang kan mengakibatkan munculnya keluhan-keluhan dan akhirnya timbul keserakahan. Lho kok serakah? Karena sebenernya Allah telah mencukupkan semuanya tapi kita menjadi gelap mata dan akhirnya menjadi serakah.
Contohnya ketika Allah sudah mencukupkan kita dengan rezeki makanan-makanan yang halal dan bisa dibilang sederhana (sepertu tahu dan tempe), namun kita mengeluh dan merasa tidak puas dengan apa yang kita miliki. Kita ingin makanan mewah. Disaat itu pula muncul rasa serakah, kita ingin memiliki makanan mewah itu, namun uang kita tak cukup membelinya. Timbul lah keinginan jahat, mungkin mencuri uang untuk membeli makanan mewah yang kita inginkan tersebut
So, mengeluh adalah akar dari tidak adanya rasa syukur. dan tidak adanya rasa syukur itu akan menimbulkan keserakahan.
Keep Grateful :)
btw, tulisan ini gak berlaku buat serakah ilmu lho....
Kamis, 10 September 2015
(katanya) Tuhan Maha Romantis
![]() |
| Novel "Tuhan Maha Romantis" karya Azhar Nurun Ala |
“Menjauh untuk menjaga."
Sampai pada baris tulisanku yang
kesekian ini, aku masih belum bisa menerima konsep itu. Seperti konsep
‘rela menunggu untuk kebahagiaan’. Lagi-lagi, entahlah. Barangkali
karena aku terlalu merindukanmu, hingga bahkan aku tak rela menunggu,
terlebih lagi membuatmu menunggu.”
-Azhar Nurun Ala dalam Ja(t)uh-
Mengawali coretanku malam ini dengan sebuah sajak dari bang Azhar Nurun Ala dalam karyanya yang berjudul ja(t)uh. Sajak ini cukup menggambarkan alur cerita pada karya bang Azhar selanjutnya yang berjudul Tuhan Maha Romantis.
Satu hal yang menarik pandanganku akan syair beliau, "Menjauh untuk menjaga". Tiap-tiap kita pernah merasakan perasaan yang fitrah, yaitu menyukai seseorang. Tapi tunggu, ku tuliskan ini bukan semata untuk curhat bergalau ria atau sekedar ber-roman picisan. Sekali lagi bukan.
Lebih baik menjauhi dia yang kita kagumi daripada timbul fitnah, sekalipun itu fitrah. Sekali lagi, aku tak menyalahkan mereka-mereka atas perasaan yang bisa kita sebut 'kagum', 'suka', atau 'cinta' sekalipun. apapun namanya, kita pasti pernah merasakan itu.
Menjauh adalah bentuk penjagaan kita terhadap hal-hal yang akan mendekati zina. Menjauh berarti 'siap menunggu untuk berbagai konsekuensi', seperti apa yang diuliskan bang Azhar 'rela menungu untuk kebahagiaan'.
Menunggu mungkin akan selalu berujung pada kebahagiaan, tapi merayakan kebahagian dengan seseorang yang kita inginkan hanyalah sebuah keinginan dan angan-angan kita, karena belum tentu itu keinginan Allah. Allah punya kendali atas kebahagian kita, tapi kita juga bisa ambil bagian dengan terus berdoa, memohon, dan tentunya memantaskan diri agar Allah berkenan serta ridho dengan pilihan kita kelak. Namun sekali lagi, pilihan kita belum tentu menjadi pilihan Allah untuk kita. Allah tahu yang terbaik.
Sesungguhnya kita tak perlu sibuk atas urusanNya. Biarlah kita sibuk dengan diri sendiri, yaitu dengan berdoa dan memantaskan diri.
lalu, katanya Tuhan Maha Romantis? benarkah?
Aku yakin memang Allah Maha Romantis. Romantis kepada hamba-hambanya, yang selalu memberikan hadiah yang tak terduga untuk hambaNya yang sabar menanti dalam taat dalam rangka menghindari segala maksiat
Aku percaya Allah Maha Romantis. Allah selalu hadirkan romana-romansa ketenangan batin dan jiwa pada hambaNya yang bersyukur dan mau sabar menanti sembari memantaskan diri
Aku tahu Allah memang Maha Romantis. Allah akan memberikan hadiah di waktu yang tepat saat kita siap bertemu dia yang kita nantikan.
Aku juga ingat apa yang ditulis bang Azhar pada Novelnya yang berjudul Tuhan Maha Romantis
"Ketika ekspresi rindu adalah doa, tak ada cinta yang tak mulia"
tiap-tiap kita mungkin pernah merasakan rindu. Tapi apalah arti rindu kalo kehadiran rindu menjadi ajang 'memaksakan' diri untuk merusak jalan skenario yang sudah Allah tulis. biarkan semua mengalir apa adanya. Tugas kita hanya memantaskan diri sebagai bagian dari ikhtiar dan berdoa.
ketika kamu rindu, maka sampaikanlah rindu itu ke dalam doa sampai menguap ke atas, yaitu hingga terdengar sampai langit ke-tujuh. Biar Allah merubah rindu itu menjadi sebuah pertemuan indah yang tak akan pernah kamu sangka
karena kamu hanya perlu percaya bahwa rencana Allah selalu lebih Romantis dari apa yang kamu harapkan.
Senin, 07 September 2015
Menikmati Seonggok Bangkai dengan Sebilah Pedang
jawabku adalah LIDAH
'pedang' yang kita miliki ini diibaratkan bisa membunuh saudara sendiri hingga menjadi seonggok bangkai yang siap kita nikmati.
Lidah memang tak memiliki tulang, namun ia memiliki kebebasan untuk bergerak membentuk sebuah makna. Makna tersebut hidup dari sekumpulan kata dan membentuk kalimat-kalimat. Kalimat-kalimat ini bisa bersifat tumpul bagai pisau yang tak pernah diasah atau bersifat tajam bagai pedang atau samurai yang bisa 'membunuh' seseorang. Pedang tersebut nantinya bisa menusuk dirimu sendiri, lalu mendorongmu ke neraka atau memusuk hati orang lain. Jadi, bisa ku tarik kesimpulan awal bahwa pedang yang ku maksud adalah lidah
Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya ia mendengar Rasulullah Muhammad saw bersabda:
"Sesungguhnya seseorang hamba itu niscayalah berbicara dengan suatu perkataan yang tidak ia fikirkan (baik atau buruknya), maka dengan sebab perkataannya itu ia dapat tergelincir ke neraka yang jaraknya lebih jauh daripada jarak antara sudut timur dan sudut barat." (Muttafaq 'alaih)
"Sesungguhnya seseorang hamba itu niscayalah berbicara dengan suatu perkataan yang tidak ia fikirkan (baik atau buruknya), maka dengan sebab perkataannya itu ia dapat tergelincir ke neraka yang jaraknya lebih jauh daripada jarak antara sudut timur dan sudut barat." (Muttafaq 'alaih)
Seringkali kita lupa memikirkan kembali kalimat apa yang pantas dikeluarkan. Banyak sekali bahaya yang diakibatkan lisan, seperti timbulnya fitnah, ghibah, adu domba, berdusta, dan lain sebagainya.
Namun, yang akan ku tuliskan disini adalah mengerucut kepada ghibah.
“Dan janganlah kalian saling menggunjing. Adakah seorang diantara
kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah
kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya
Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hujurat: 12).
Berdasarkan ayat dari surat cintaNya diatas, maka ghibah atau menggunjing disamakan dengan memakan daging saudaranya yang sudah mati. Tentulah kita akan merasa muak dan jijik dengan hal ini. Bayangkan bila kita harus memakan daging mayit saudara sendiri.
lantas, mengapa Allah menyandingkan ghibah dengan dengan memakan daging saudara yang sudah mati?
ghibah atau menggunjing merupakan kegiatan membicarakan orang lain di belakangnya, tanpa diketahui orang yang kita bicarakan. lalu hubungannya dengan bangkai apa?
seperti yang kita tahu, bahwa sifat bangkai adalah tidak bernyawa, tidak dapat mendengar, tidak dapat membela diri ketika sedang dijelek-jelekan.
orang yang sedang kita bicarakan saat ghibah juga seperti itu, tidak dapat mendengar dan tidak dapat membela diri ketika sedang dijelek-jelekan dan diperbincangkan dibelakang.
Ghibah akan bisa mengoyak kehormatan orang lain, layaknya mengoyak kulit dari dagingnya saat memakai bangkai saudara sendiri
Itulah mengapa lidah bisa menjerumuskanmu ke neraka.
so, masih mau ber-ghibah?
Selasa, 02 Juni 2015
Hope and Loss
Hidup ini sungguh lucu. Sering sekali kita
merasakan kehilangan, padahal kita tak pernah mempunyai kesempatan untuk
benar-benar memilikinya. Sering sekali kita ingin memiliki sesuatu selamanya, padahal
tak ada sesuatu yang abadi di bumi ini, semuanya hanya sekedar "numpang
lewat". Sesuatu yang “numpang lewat” itu terkadang menipu kita dengan
memunculkan semua ilusi-ilusi yang kita rangsang kemunculannya dengan harapan
yang tinggi dan angan-angan yang terlalu jauh.
Hidup ini aneh. Kita terlalu sering memenuhi hati ini dengan banyak harapan (yang tak tahu bila harapan itu ternyata) kosong dan mungkin akan kandas dengan sekelebat takdirNya. Ketika harapan tak tersulap menjadi kenyataan, kita sendiri yang tertatih sedih karena merasa kehilangan. Hey, tunggu. Mengapa harus merasa kehilangan, toh kita tak pernah memiliki kenyataan itu. Kenyataan yang tak tergenggam dan kandas disapu oleh takdir.
Hidup ini sebuah kebohongan. Sebenarnya bukan
kebohongan, namun kita sendiri lah yang merasa sudah dibohongi oleh
bayangan-bayangan yang telah kita ciptakan sendiri. Bayangan itu adalah bayang-bayang
harapan dari orang lain. Kau bingung mengapa ku sebut “bayang-bayang harapan
orang lain?” ku pikir tidak, karena aku yakin kau pernah berharap banyak kepada
seseorang. Bagaimana rasanya? Sudah pasti pahit. Bila pahit diibaratkan sebagai
basa, maka cara menetralkannya adalah dengan asam. Asam-asam doa yang kuat dan
bisa menembus langit, yang bisa menetralkan harapan itu. Tak perlulah berharap
banyak pada manusia. Sudah jutaan manusia yang tergores hatinya karena berharap
pada makhluk sesamanya.
Hidup ini memang tak semudah 1+1=2 bila kita terlalu banyak berharap untuk banyak memiliki layaknya 1+1=100. Banyak berharap memunculkan banyak persepsi yang dapat menciptakan rasa kegirangan atau kesenangan semu. Sebenarnya kita tak sadar bila kesenangan itu semu. Kita baru akan menyadarinya bila kesenangan semu itu memudar menjadi kesedihan yang benar-benar nyata menusuk hati. Disitulah kita kembali merasa kehilangan, lalu menganggap hidup itu tak adil. Rasa tak adil itu sebenarnya kita sendiri yang membuatnya ada. Terlalu banyak khayalan dan berfantasi ria dengan hal-hal yang menyenangkan hati. Kesenangan kosong yang tak ada artinya!
Sabtu, 30 Mei 2015
Jangan Samakan Batu Granit dengan Kopi Seribuan
"Batu Granit yang Cantik"
sesungguhnya itu dalah arti dari nama panjangku, yaitu Granita Ghassini.
eh tunggu dulu, pasti sebagian dari kalian berpikir bila namaku seperti merek kopi. merek kopi yang orang bilang harganya seribuan dan dijual di warung pinggir jalan terdekat. Kopi yang mendadak booming saat aku SMP dan teman-temanku kala itu sering sekali menyamai namaku itu dengan kopi seribuan itu.
Antara kesal dan ingin tertawa. Apa sebenarnya yang dipikirkan para pendiri dan pemilik kopi seribuan itu sehingga nama "granita" muncul di kepala mereka dan nama itu dipublikasikan dalam sebuah nama merek kopi. Kerena pemikiran mereka itu aku seringkali jadi bahan bercandaan teman-temanku karena namaku serupa dengan merek kopi seribuan itu.
Setiap aku bertemu orang-orang baru dan memperkenalkan diriku, pasti salah satu atau salah dua dari mereka berkomentar "ih nama lo kayak nama kopi seribuan", well, aku cuma bisa tersenyum dan menjelaskan apa makna dari namaku yang sebenarnya. Itulah mengapa aku kadang malas mengenalkan nama panjangku karena akan selalu bermunculan komentar serupa.
Sesungguhnya aku juga tak mengerti, darimana ayahku mendapatkan ide memberi nama anak gadisnya ini dengan nama "granita". Mungkin karena ayah lulusan teknik pertambangan dan dalam kerja praktiknya dahulu sering menemukan jenis batuan beku nan indah bernama batu granit. mungkin juga dari situ ia mendapatkan ide untuk menamai anaknya "Granita". Granita yang artinya batu granit, yang setauku nama granit ini berasal dari kata granum yang artinya "butir padi". Lalu apa hubungannya batu granit dengan butir padi? aku tak tau, mungkin anak pertambangan, geografi, geologi bisa menjelaskannya.. ha-ha-ha
Selain itu, menurut sumber yang ku baca, batu granit merupakan batu penanda benua, bahkan batu penanda planet bumi. Batu granit ini yang menjadi pembeda antara bumi dengan planet lain. Setelah tahu tentang hal ini, maka bermunculan rasa bangga memiliki nama granita. ha-ha-ha
Beberapa fakta lain mengenai batu granit , yaitu batu granit mengandung mineral kuarsa dan feldspar. Kedua mineral ini yang membuat batu granit menghasilkan cahaya terang, mulai dari merah muda hingga putih. Batu granit sifatnya keras dan kokoh. Batu granit terbentuk dari magma di perut bumi.
Yap, ku bisa mengambil kesimpulan dari hipotesis ku selama ini mengapa ayah memberiku nama granit.
Pertama, ayah ingin aku kuat dan kokoh layaknya batu granit yang bisa bertahan dalam kondisi apapun, bukan seperti kopi granita yang cair dan terdapat tanggal kadaluarsanya.
Kedua, ayah ingin aku lahir dan tumbuh menjadi wanita cantik dan 'mahal', bukan seperti kopi granita yang (kata orang) manis namun bisa bebas dinikmati siapa saja
Ketiga, ayah ingin aku terlihat berbeda dengan orang lain layaknya batu granit yang merupakan batu penanda planet bumi dengan yang lainnya. Berbeda dalam artian unik.
Keempat, mungkin saja ayahku ingin anaknya ini menghasilkan pancaran 'cahaya' layaknya batu granit yang memiliki mineral kuarsa dan feldspar. Ayah ingin dalam diriku terkandung hal-hal baik layaknya kuarsa dan feldspar. Dari hal-hal baik itu diharapkan bisa terpancar pesona aura kebaikan yang bermanfaat untuk orang lain.
Kelima, ayah ingin aku kuat dalam menghadapi 'panasnya' tekanan dan cobaan hidup. diharapkan aku bisa menjadi pribadi yang kokoh setelah dibentuk melalui tekanan dan ujian hidup yang besar. Layaknya batu granit yang terbentuk dari panasnya magma di perut bumi dan akhirnya menjadi sebuah batu yang cantik dan banyak dicari orang.
Keenam, karena batu granit sifatnya kuat dan kokoh, maka batu granit sering digunakan sebagai material konstruksi bangunan. Dapat ditarik kesimpulan bahwa ayah ingin aku menjadi kokoh untuk menopang konstruksi 'bangunan' keluarga di rumah. Well, dan sekarang aku sedang ditempa untuk menjadi seperti itu karena Ayah telah tiada :')
Seharusnya aku harus banyak berterimakasih kepada Ayah karena beliau telah memberi ku nama "Granita Ghassini", yang artinya batu granit yang cantik, bukan kopi granita yang cantik, hahaha -_-
karena nama adalah doa, semoga doa pemberianmu senantiasa menjadi cerminan hidupku selamanya. aamiin :)
so, jangan samakan batu granit dengan kopi seribuan :p
so, jangan samakan batu granit dengan kopi seribuan :p
*by the way, penulis gak bermaksud menjelekkan atau mempromosikan merek kopi yang diseutkan barusan. Mohon maaf bila ada pihak yang tersinggung :D
Langganan:
Postingan (Atom)




