Minggu, 28 Agustus 2016
SENJA
Ku amati senja dengan seksama.
Seakan senja hanya berjarak beberapa meter saja dari pelupuk mataku.
Ngomong-ngomong senja, aku suka senja.
Aku memang menyukai senja, tetapi aku tak ingin jadi senja di sore hari.
Senja sore memang indah, tapi keindahannya akan datang sementara
Lalu hilang begitu saja ditelan pekatnya langit malam
Kalau aku...
aku hanya ingin jadi seseorang yang membuat indah hari mu setiap saat dan setiap hari
meski aku tau tidak ada keindahan yang abadi.
semuanya akan dimakan waktu. waktu saat-saat kita kembali padaNya
Tetapi izinkan aku menjadi senja mu setiap saat, senja yang tidak datang hanya di kala sore saja
semoga Tuhan meridhoi
Hallo Tuan,
apakah kamu suka senja?
Kamis, 30 Juni 2016
Bila Ramadhan Bisa Bicara
Sudah memasuki fase akhir Ramadhan, orang-orang berbondong datangi masjid demi jalani kekhusyukan detik-detik terakhir ditinggal pergi
Sungguh, hanya hati orang-orang yang beriman yang sedih ketika Ramadhan akan pergi.
Lalu, apakah kita termasuk orng-orang yang sedih karena Ramadhan akan pergi atau bahkan kita pura-pura sedih? atau lebih mirisnya lagi, apakah kita sebenarnya hanya pura-pura rindu Ramadhan?
Jangan-jangan kita berbohong pada diri sendiri. Kita ingin sekali bertemu Ramadhan, namun kita tidak maksimal dalam menjalaninya. Jangan-jangan kita hanya berpura-pura rindu Ramadhan, rindu akan euforianya saja tanpa memperhatikan kualitas ibadah.
Lalu apakah kita rela, ketika Ramadhan pergi, amalan kita compang-camping?
Bila Ramadhan bisa bicara, ia akan berikan pesan-pesannya untuk kita, yang mungkin berpura-pura rindu padanya
"Hai orang-orang beriman, ku kan beri tujuh pesan kepada kalian selepas aku akan pergi"
Pesan Pertama:
Allah yang kalian sembah di bulan Ramadhan, sama dengan Allah yang kalian sembah selain bulan Ramadhan, Jangan hanya datangi Allah di bulan Ramadhan saja
Pesan Kedua:
Bila aku sudah pergi, jangan lupa kerjakan puasa sunnah. Kalian sudah aku latih 30 hari berpuasa
Pesan Ketiga:
Bila aku sudah pergi, jangan jadikan Al-Qur'an berdebu. Qur'an yang berdebu dan hanya dipajang tidak akan menyelamatkan kalian di akhirat
Pesan Keempat:
Kalau aku pergi, jangan tinggalkan shalat malam. Karena kalian sudan dilatih shalat malam selama Ramadhan
Pesan Kelima:
Jika aku pergi, jangan lupakan amalan-amalan yang kalian tanam saat Ramadhan untuk disiram kembali. Jangan hanya dibiarkan saja.
Pesan Keenam:
Untuk para wanita. Jika aku pergi, jangan dicopot lagi jilbabnya bila hati kalian sudah mantap.
Pesan Ketujuh:
Setelah aku pergi, maka janganlah kamu bersantai-santai. Jangan merasa amalanmu diterima begitu saja.
Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang berpura-pura rindu Ramadhan.
Sumber:
Resume Kajian I'tikaf Al-Mu'minun di Malam ke-25
(sebagai introspeksi diri sendiri)
Selasa, 28 Juni 2016
Konsekuensi
Konsekuensi dari mencintai adalah melepaskan.
Konsekuensi dari melepaskan adalah menunggu.
Konsekuensi dari menunggu adalah menanti penuh ketidakjelasan.
apa? ketidakjelasan?
iya, karena itulah hanya orang-orang yang sabar yang mampu menanti dalam ketidakjelasan dan ketidakpastian.
orang yang menunggu, banyak panjatkan doa, bila kelak apa yang dilepaskan akan kembali.
ada sebagian mereka yang terjebak ilusi perasaan mereka sendri, karena hati mereka penuh pengharapan yang tinggi.
ada sebagian mereka yang pasrah, sepasrah-pasrahnya melepaskan seluruh harapan dan perasaan terhadap Sang Pembolak-Balik Hati.
orang-orang yang seperti ini tak brarti tidak penuh harap. Ada secercah harapan di hatinya. Perasaan yang membucah.
Tapi mereka sadari, perasaan hanyalah perasaan, yang kemudian di salurkan di sepertiga malam.
mereka salurkan diatas sajadah yang nantinya akan menguap ke langit dan tercatat disana.
benar kata orang bijak, doa yang terlantun dari dalam hati akan tercatat selamanya di langit.
Perasaan rindu, perasaan... ah entahlah. aku tak berani katakan itu perasaan cinta dan sayang, karena sejatinya perasaan cinta yang hakiki hanya ada pada ikatan halal.
Melepaskan, menunggu, menanti dengan penuh ketidakjelasan. Bila itu konsekuensinya, maka Allah akan berikan yang terbaik.
Kamis, 04 Februari 2016
Hai Kamu, Iya Kamu!
Hai kamu, iya kamu~Kamu yang masih jauh diujung mimpiku
Kamu yang masih kusebut terus diujung sajadahku
Kamu yang masih diujung jalan sana
Bisa jadi kita akan bertemu kembali di waktu yang tepat
Hai kamu, iya kamu~
Kamu yang tidak pernah aku sebut-sebut dengan kata-kata dan suara di depan mereka
Kamu yang aku sebut lirih di depan Tuhan ku
Bisa jadi suatu saat nanti ku tak canggung lagi menyebut namamu ketika halal menyapa
Hai kamu, iya kamu~
Kamu yang jarang sekali aku temui
Kamu yang jarang sekali aku lihat
Kamu yang jarang sekali aku tatap
Bisa jadi suatu saat nanti aku akan setiap hari menatapmu tanpa ada serpihan dosa
Hai kamu, iya kamu~
Kamu yang aku tunggu
Kamu yang aku harap datang kelak
Bisa jadi suatu saat nanti kau datang membawa rombongan keluargamu kerumahku
Hai kamu, iya kamu
Kamu yang tak pernah memberiku setangkai bunga
Kamu yang tak pernah mengirimkan puisi-puisi romantis
Kamu yang tak pernah mengirimkan seatang coklat
Bisa jadi suatu saat nanti kau memberiku mahar penanda ikatan yang sah
Hai kamu, iya kamu
Kamu yang sampai saat ini belum datang juga
Semoga suatu saat nanti datang untuk membawaku ke surga
============================================================
Aisyah yang sedari tadi memainkan jarinya diatas keyboard laptopnya, tak sadar ia tersenyum melebarkan bibirnya sendiri. Tangannya menghasilkan syair tersebut.
"Aisyah, ayok jemput adikmu di sekolah, nak", teriak ibunya
Segera bergegaslah Aisyah menjemput adiknya ke sekolah, ia rupanya lupa mematikan laptopnya. Kini, layarnya penuh dengan bait syair yang ia buat dengan sendirinya.
Kamu yang masih kusebut terus diujung sajadahku
Kamu yang masih diujung jalan sana
Bisa jadi kita akan bertemu kembali di waktu yang tepat
Hai kamu, iya kamu~
Kamu yang tidak pernah aku sebut-sebut dengan kata-kata dan suara di depan mereka
Kamu yang aku sebut lirih di depan Tuhan ku
Bisa jadi suatu saat nanti ku tak canggung lagi menyebut namamu ketika halal menyapa
Hai kamu, iya kamu~
Kamu yang jarang sekali aku temui
Kamu yang jarang sekali aku lihat
Kamu yang jarang sekali aku tatap
Bisa jadi suatu saat nanti aku akan setiap hari menatapmu tanpa ada serpihan dosa
Hai kamu, iya kamu~
Kamu yang aku tunggu
Kamu yang aku harap datang kelak
Bisa jadi suatu saat nanti kau datang membawa rombongan keluargamu kerumahku
Hai kamu, iya kamu
Kamu yang tak pernah memberiku setangkai bunga
Kamu yang tak pernah mengirimkan puisi-puisi romantis
Kamu yang tak pernah mengirimkan seatang coklat
Bisa jadi suatu saat nanti kau memberiku mahar penanda ikatan yang sah
Hai kamu, iya kamu
Kamu yang sampai saat ini belum datang juga
Semoga suatu saat nanti datang untuk membawaku ke surga
============================================================
Aisyah yang sedari tadi memainkan jarinya diatas keyboard laptopnya, tak sadar ia tersenyum melebarkan bibirnya sendiri. Tangannya menghasilkan syair tersebut.
"Aisyah, ayok jemput adikmu di sekolah, nak", teriak ibunya
Segera bergegaslah Aisyah menjemput adiknya ke sekolah, ia rupanya lupa mematikan laptopnya. Kini, layarnya penuh dengan bait syair yang ia buat dengan sendirinya.
Jumat, 29 Januari 2016
Mahkota Pelindung
Surga diciptakan bagi mereka yang berdosa, namun mereka sungguh-sungguh bertaubat hinga Allah meridhoi dan mengampuni mereka
Surga diciptakan bagi mereka yang pernah tidak mentaatiNya, tapi mereka sungguh-sungguh dalam mencari hidayahNya
Surga diciptakan bagi mereka yang durjana, namun mereka sungguh-sungguh memperbaiki sikap mereka
bisa ku katakan bahwa, surga diciptakan untuk para wanita yang dahulu enggan berhijab, namun mereka berusaha dan bersusah payah beristiqamah memakai mahkota pelindung.
ku sebut mahkota pelindung, karena memang hijab sebagai mahkota yang melindungi wanita dari azab api neraka.
Rasulullah pun pernah bersabda bahwa penghuni neraka sebagian besar ditempati oleh para wanita.
“Aku melihat ke dalam Syurga maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah fuqara’ (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam Neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penghuninya adalah wanita.”
(Hadis Riwayat Al- Bukhari dan Muslim)
Istiqamah itu sangat sulit, ketika harus mempertahankan hijab. Mungkin banyak dari kita menerima banyak cemohan tentang hijab. Besyukurlah di zaman sekarang ini, memakai hijab tak sesulit dahulu, yang dimana para wanita yang berhijab harus rela dikeluarkan dari sekolahnya. Dimana para wanita harus rela menerima ejekan orang lain.
"Jilbab-in hati dulu, baru jilbab-in rambut".
Aku banyak dengar statement ini dari sebagian orang. Dalam Islam pun, tak ada jilbab hati. Yang ada, perintah untuk menutupin rambut (dan aurat lainnya).
Katakanlah (wahai Nabi Muhammad) kepada wanita- wanita mukminah, ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan hiasan (pakaian, atau bagian tubuh) mereka kecuali yang (biasa) nampak darinya dan hendaklah mereka menutupkan kerudung mereka ke dada mereka (QS. an-Nur [24]: 31).
Ada lagi statement yang membuatku menggelitik
"Percuma berjilbab, tapi kelakuannya buruk".
Bagiku, tak ada kata 'percuma' untuk melakukan suatu kebaikan, apalagi kebaikan itu tujuannya untuk mentaati perintahNya. Jangan salahkan jilbab bila kelakuannya mungkin buruk.
Jilbab bisa merubah sikap seseorang. Dengan jilbab, ia akan sedikit demi sedikit merubah sikapnya, karena malu dengan jilbab yang ia pakai.
sekali lagi, jangan pernah katakan "percuma berjilbab, kalo masih blablabla"
Justru memakai jilbab menjadi awalan dan proses seorang wanita dalam menjaga izzah nya dan memperbaiki segala sikapnya.
statement lain-lainnya yang sering ku dengar
"pake jilbab panjang-panjang, kayak istri teroris. pake jilbab panjang-panjang, udah kayak ibu-ibu. pake jilbab panjang-panjang, kayak bu haji aja"
Sejujurnya hanya bisa tertawa mendengarnya. Biasanya kalimat ini sering dilontarkan kepada mereka-mereka yang sedang ber-istiqamah memakai hijab syar'i
well yeah, kalo ada yang bilang kayak ibu-ibu, kan memang calon ibu bagi anak-anak kita kelak. kalo dibilang kayak bu haji, ya aamiin-kan saja, mudah-mudahan bisa jadi haji beneran.
Karena sejatinya, rambut ini adalah mahkota yang tetap harus dilindungi lagi oleh mahkota pelindung. Mahkota pelindung yang InsyaAllah melindungi pemkainya dari siksa api neraka (aamiin)
Biarkan para mahram mu dan suami sah mu yang melihat mahkota indahmu kelak. Maka jadilah wanita shalihah untuk Allah, istri shalihah untuk suami, ibu shalihah bagi anak-anak kelak, dan wanita cerdas yang kan mencerdaskan anak-anak kelak. Hijab tidak menghalangimu untuk menjadi wanita cerdas. Yuk mari berHIJRAH dan berHIJAB :)
dari yang sedang berusaha jadi baik,
ghazinena
nb: tulisan ini tidak bermaksud menggurui, hanya saja menjadi reminder diri sendiri :)
Senin, 26 Oktober 2015
Mengeluh
Malam itu aku baru saja turun dari kereta yang membawaku dari Stasiun Lenteng Agung ke Stasiun Klender Baru. Aku turun dari kereta bersama seorang teman satu kampus, namanya Atikah. Namun kami berbeda fakultas. KAmi sudah cukup lama kenal dari SMA, meskipun berbeda SMA.
Sejujurnya di hari itu aku sangat lelah, karena kondisi badanku yang lagi kurang fit. Dengan langkah tergontai aku berjalan dengan temanku di sepanjang peron menuju pintu keluar. Tak sengaja ku lontarkan kalimat keluhan, "capek banget yaa, dari pagi naik kendaraan umum. gak kebagian tempat duduk, jadinya berdiri mulu deh". temanku itupun merespon perkataanku, "itu berarti kamu masih diberi kekuatan untuk berdiri terus."
Sejujurnya di hari itu aku sangat lelah, karena kondisi badanku yang lagi kurang fit. Dengan langkah tergontai aku berjalan dengan temanku di sepanjang peron menuju pintu keluar. Tak sengaja ku lontarkan kalimat keluhan, "capek banget yaa, dari pagi naik kendaraan umum. gak kebagian tempat duduk, jadinya berdiri mulu deh". temanku itupun merespon perkataanku, "itu berarti kamu masih diberi kekuatan untuk berdiri terus."
Sejujurnya perkataan temanku ini cukup menyentil hati dan perasaan. seketika menyesal telah mengeluh seperti itu. Betapa tidak, masih banyak orang-orang disana yang harus menggunakan kursi roda ataupun tongkat untuk membantunya melakukan kegiatan sehari-hari. Sedangkan aku? pantaskah aku mengeluh dengan kondisi (Alhamdulillah) memiliki kaki yang masih lengkap. Ah kadang mulut ini tak tahu diri diri untuk mengucapkan hal-hal yang seharusnya tidak dikeluhkan dikala semuanya ternyata masih baik-baik saja.
Terkadang mulut ini memang suka tak tahu diri yaa. Apa sulitnya bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang?
“Dan Dia-lah yang memberikan KEKAYAAN dan KECUKUPAN.”
(QS. Al Najm : 48)
Menurut ayat diatas, Allah tak menjadikan manusia akan kekurangan sesuatu apapun, yang ada hanyalah kekayaan dan kecukupan. Kita selalu merasa kurang, karena kita sendirilah yang membuat-buat semuanya kurang. Perasaan selalu merasa kurang ini adalah buah dari minimnya rasa syukur. Rasa syukur yang kurang kan mengakibatkan munculnya keluhan-keluhan dan akhirnya timbul keserakahan. Lho kok serakah? Karena sebenernya Allah telah mencukupkan semuanya tapi kita menjadi gelap mata dan akhirnya menjadi serakah.
Contohnya ketika Allah sudah mencukupkan kita dengan rezeki makanan-makanan yang halal dan bisa dibilang sederhana (sepertu tahu dan tempe), namun kita mengeluh dan merasa tidak puas dengan apa yang kita miliki. Kita ingin makanan mewah. Disaat itu pula muncul rasa serakah, kita ingin memiliki makanan mewah itu, namun uang kita tak cukup membelinya. Timbul lah keinginan jahat, mungkin mencuri uang untuk membeli makanan mewah yang kita inginkan tersebut
So, mengeluh adalah akar dari tidak adanya rasa syukur. dan tidak adanya rasa syukur itu akan menimbulkan keserakahan.
Keep Grateful :)
btw, tulisan ini gak berlaku buat serakah ilmu lho....
Kamis, 10 September 2015
(katanya) Tuhan Maha Romantis
![]() |
| Novel "Tuhan Maha Romantis" karya Azhar Nurun Ala |
“Menjauh untuk menjaga."
Sampai pada baris tulisanku yang
kesekian ini, aku masih belum bisa menerima konsep itu. Seperti konsep
‘rela menunggu untuk kebahagiaan’. Lagi-lagi, entahlah. Barangkali
karena aku terlalu merindukanmu, hingga bahkan aku tak rela menunggu,
terlebih lagi membuatmu menunggu.”
-Azhar Nurun Ala dalam Ja(t)uh-
Mengawali coretanku malam ini dengan sebuah sajak dari bang Azhar Nurun Ala dalam karyanya yang berjudul ja(t)uh. Sajak ini cukup menggambarkan alur cerita pada karya bang Azhar selanjutnya yang berjudul Tuhan Maha Romantis.
Satu hal yang menarik pandanganku akan syair beliau, "Menjauh untuk menjaga". Tiap-tiap kita pernah merasakan perasaan yang fitrah, yaitu menyukai seseorang. Tapi tunggu, ku tuliskan ini bukan semata untuk curhat bergalau ria atau sekedar ber-roman picisan. Sekali lagi bukan.
Lebih baik menjauhi dia yang kita kagumi daripada timbul fitnah, sekalipun itu fitrah. Sekali lagi, aku tak menyalahkan mereka-mereka atas perasaan yang bisa kita sebut 'kagum', 'suka', atau 'cinta' sekalipun. apapun namanya, kita pasti pernah merasakan itu.
Menjauh adalah bentuk penjagaan kita terhadap hal-hal yang akan mendekati zina. Menjauh berarti 'siap menunggu untuk berbagai konsekuensi', seperti apa yang diuliskan bang Azhar 'rela menungu untuk kebahagiaan'.
Menunggu mungkin akan selalu berujung pada kebahagiaan, tapi merayakan kebahagian dengan seseorang yang kita inginkan hanyalah sebuah keinginan dan angan-angan kita, karena belum tentu itu keinginan Allah. Allah punya kendali atas kebahagian kita, tapi kita juga bisa ambil bagian dengan terus berdoa, memohon, dan tentunya memantaskan diri agar Allah berkenan serta ridho dengan pilihan kita kelak. Namun sekali lagi, pilihan kita belum tentu menjadi pilihan Allah untuk kita. Allah tahu yang terbaik.
Sesungguhnya kita tak perlu sibuk atas urusanNya. Biarlah kita sibuk dengan diri sendiri, yaitu dengan berdoa dan memantaskan diri.
lalu, katanya Tuhan Maha Romantis? benarkah?
Aku yakin memang Allah Maha Romantis. Romantis kepada hamba-hambanya, yang selalu memberikan hadiah yang tak terduga untuk hambaNya yang sabar menanti dalam taat dalam rangka menghindari segala maksiat
Aku percaya Allah Maha Romantis. Allah selalu hadirkan romana-romansa ketenangan batin dan jiwa pada hambaNya yang bersyukur dan mau sabar menanti sembari memantaskan diri
Aku tahu Allah memang Maha Romantis. Allah akan memberikan hadiah di waktu yang tepat saat kita siap bertemu dia yang kita nantikan.
Aku juga ingat apa yang ditulis bang Azhar pada Novelnya yang berjudul Tuhan Maha Romantis
"Ketika ekspresi rindu adalah doa, tak ada cinta yang tak mulia"
tiap-tiap kita mungkin pernah merasakan rindu. Tapi apalah arti rindu kalo kehadiran rindu menjadi ajang 'memaksakan' diri untuk merusak jalan skenario yang sudah Allah tulis. biarkan semua mengalir apa adanya. Tugas kita hanya memantaskan diri sebagai bagian dari ikhtiar dan berdoa.
ketika kamu rindu, maka sampaikanlah rindu itu ke dalam doa sampai menguap ke atas, yaitu hingga terdengar sampai langit ke-tujuh. Biar Allah merubah rindu itu menjadi sebuah pertemuan indah yang tak akan pernah kamu sangka
karena kamu hanya perlu percaya bahwa rencana Allah selalu lebih Romantis dari apa yang kamu harapkan.
Langganan:
Postingan (Atom)



